Selasa, 05 April 2011

Cara Agar Pria Berkata Jujur

cara membuat seorang pria agar mau berkata jujur kepada anda. Terdapat lima kata ajaib seperti serum kejujuran yang akan membuat pria membuka kebohongannya. Ego pria lebih besar daripada wanita. Karenanya, temukan cara yang tepat agar Anda tak “menyentil” egonya.
Suka atau tidak, setiap pria bahkan pria baik sekalipun, tidak akan berkata jujur baik kini maupun nanti, kata Xavier Amador PhD, penulis “I’m Right, You’re Wrong, Now What?”. Tentunya, pria berbohong untuk hal-hal besar, salah satunya selingkuh.
Namun menyembunyikan detail tentang hal-hal ringan, seperti apakah dia benar-benar harus kerja lembur pada malam yang sama dengan acara makan malam ulang tahun kawan baik Anda atau mengapa dia selalu tidak berminat menghabiskan akhir pekan berdua, dia mungkin tak akan berbohong agar tidak menyakiti hati Anda.
“Pria mengatakan sedikit kebohongan untuk menghindari konflik,” kata Amador.
Lain waktu Anda kesal akibat kebohongan pasangan, gunakan beberapa strategi berikut untuk memaksanya berkata jujur, seperti dibeberkanCosmopolitan.
1. Atur jarak dan suasana nyaman
Buat dirinya senang dan nyaman, maka ia akan bicara jujur. Posisikan diri Anda di seberang ruangan darinya, misal jika ia duduk di sofa, Anda duduk dengan jarak sekira 6-9 lantai darinya. Pastikan Anda juga mengondisikan ruangan dari suara televisi ataupun laptop.
“Saat pria di luar jangkauan, jarak personalnya akan terbentang cukup luas, dan duduk lebih rendah darinya menjadi sinyal bahwa Anda ingin menciptakan percakapan yang akan menjadi ancaman baginya,”, kata Janine Driver, ahli bahasa tubuh dan deteksi tipu daya. Intinya, hadapi pasangan dari sebuah sudut yang tidak memposisikan dirinya tengah Anda intimidasi.
Kemudian, mulai percakapan dengan pertanyaan umum yang berhubungan dengan kebohongannya. Kalau Anda menduga dia berbohong terhadap sesuatu yang pernah Anda tanyakan, mulai dengan pertanyaan seperti, “Jadi, bagaimana perkembangan hal itu? Hal ini akan mendorongnya untuk bicara karena baginya, Anda seperti telah menciptakan sebuah percakapan rutin biasa, dan bukan sebuah interogasi,” kata Driver.
2. Hindari tindakan menuduh
Kemudian, tuntun ia pada kebenaran cerita dengan membuat pernyataan yang tidak konfrontatif. Katakan lima kata-kata ajaib, “Kalau ada beberapa alasan mengapa….” Dan, lengkapi kalimat tersebut dengan menggambarkan kecurangan yang ia buat.
Sebagai contoh, “Adakah alasan mengapa kamu tidak ingin datang ke pesta ulang tahun Sarah bersama saya?”. Kalimat tersebut terdengar seperti permintaan akan informasi, bukan tuduhan, kata Driver.
Kalau pasangan tetap menyepelekan masalah, tanyakan lagi, “Benarkah?” dalam sebuah nada suara putus asa, dan tunggu sesaat. Menurut Driver, pertanyaan tersebut menjadi sedikit tekanan untuk pasangan tanpa membuatnya merasa tersudut.
3. Jangan menghakimi
Yang tak kalah penting, Anda harus membuat pasangan merasa aman. “Biarkan ia tahu Anda tidak akan menghukumnya untuk berkata jujur dan untuk itu, dia kemungkinan akan lebih kecil untuk berbohong terhadap pokok utama pembicaraan,” ujar Amador.
Kemudian, saat ia telah mengakui kebohongannya, cari cara untuk mendinginkan keadaan, misal hang out atau belanja. Setelah itu Anda bisa mengatakan bahwa Anda ingin membuat hubungan yang jauh lebih terbuka.
Driver menyarankan Anda untuk mengucapkan terima kasih karena kejujurannya, “Saya menghargai kalau kamu bicara jujur. Kamu selalu melakukannya, dan itu yang saya kagumi darimu.”
Dengan itu, ucap Driver, Anda sedang memberikannya sebuah sifat yang Anda inginkan darinya, yakni kejujuran.

Kerajinan Dari Kain Flanel

Kain Flanel 
Kain Flanel ( Felt ) yang bertekstur lembut dan kaya akan warna, bisa menjadi alternatif sebagai bahan pembuatan mainan anak, acsesoris cantik untuk kaum remaja, dan kerajinan untik untuk para ibu-ibu,,hehehe


Untuk membuat kerajinan dari kain flanel kita harus menyiapkan alat-alat nya dulu ya..
ini dia alat-alat serta bahan-bahan yang di perlukan untuk membuat kerajinan dr kain flanel :

1. Gunting
2. Jarum
3. Benang Sulam/ Jahit
4. Lem
5. Aneka Pita
6. Pernak-pernik hiasan
7. Pensil

Dalam proses pembuatan juga dikenal banyak teknis menjahit, seperti contoh : tekhnik feston, tekhnik tumpuk dll.
Tidak diperlukan kemampuan khusus dalam membuat permainan berbahan dasar kain Flanel. Sedikit imajinasi dan kesabaran akan dapat menghasilkan permainan yang menarik. Tantangan tersendiri adalah keberanian memadu padankan warna tentu akan sangat menambah kekayaan mutu kreasi yang dibikin.

Dengan permainan anak dari kain flanel ini sebagai contoh bisa menghasilkan permainan anak berupa "BONEKA JARI" Anak bisa mengenal banyak warna dan merangsang kemampuan verbalnya dengan menyimak cerita dari permainan ini.

Sangat mudah, praktis, murah dan bermanfaat.

Selain itu, pada tingkat mahir, akan dapat menghasilkan kreasi-kreasi yang bernilai jual akan dapat membantu menambah pemasukan keuangan. Menciptakan karakter lucu dan menarik akan memancing minat orang untuk membeli adalah nilai PLUS tersendiri.

Kreasi kain Flanel ( Felt ) bisa dibuat menjadi :
1. Boneka Jari
2. Souvenir Pernikahan/ Ultah
3. Pigura Foto
6. Buku Lipat ( Soft Book )
7. Hiasan Pensil
8. Gantungan Kunci
9. Pin
10. Magnet Kulkas
dll

Selain kemampuan mengembangkan imajinasi serta ketrampilan, melihat ~season~ yang sedang in bisa dilirik untuk menambah peluang hasil karya dari kain flanel ini mampu memiliki nilai jual. Sebagai contoh, musim hari besar ( natal / lebaran ) bisa kita membuat pernak-pernik bertema hari besar tersebut. 

Jadi, selagi ada waktu, tidak ada salahnya mencoba berketrampilan dengan memanfaatkan kain flanel dan jika sudah terampil, bisa dimanfaatkan untuk penambah pemasukan.
Lumayan kan, bisa buat tambah-tambah uang jajan..heheh ;-)

Sejarah Kota Ku Tercinta (Cirebon)

SEJARAH CIREBON

KESULTANA CIREBON
KESULTANAN Cirebon merupakan kesultanan di pantai utara Jawa Barat dan kerajaan Islam pertama di Jawa Barat. Cirebon pada saat sekarang merupakan nama satu wilayah administrasi, ibu kota, dan kota. Nama Cirebon juga melekat pada nama bekas sebuah keresidenan yang meliputi kabupaten-kabupaten Indramayu, Kuningan, Majalengka, dan Cirebon.
Sumber-sumber naskah tentang Cirebon yang disusun oleh para keturunan kesultanan dan para pujangga kraton umumnya berasal dari akhir abad ke-17 sampai awal abad ke-18. Dari sumber naskah setempat, yang dianggap tertua adalah naskah yang ditulis oleh Pangeran Wangsakerta. Selain sumber setempat, terdapat pula sumber-sumber asing. Yang dianggap tertua berasal dari catatan Tome Pires -mengunjungi Cirebon pada tahun 1513-yang berjudul Suma Oriental.
Mengenai nama Cirebon terdapat dua pendapat. Babad setempat, seperti Nagarakertabumi (ditulis oleh Pangeran Wangsakerta), Purwaka Caruban Nagari (ditulis oleh Pangeran Arya Cerbon pada tahun 1720), dan Babad Cirebon (ditulis oleh Ki Martasiah pada akhir abad ke-1  menyebutkan bahwa kota Cirebon berasal dari kata ci dan rebon(udang kecil). Nama tersebut berkaitan dengan kegiatan para nelayan di Muara Jati, Dukuh Pasambangan, yaitu membuat terasi dari udang kecil (rebon). Adapun versi lain yang diambil dari Nagarakertabhumi menyatakan bahwa kata cirebonadalah perkembangan kata caruban yang berasal dari istilah sarumban yang berarti pusat percampuran penduduk.
Di Pasambangan terdapat sebuah pesantren yang bernama Gunung Jati yang dipimpin oleh Syekh Datu Kahfi (Syekh Nurul Jati). Di pesantren inilah Pangeran Walangsungsang (putra raja Pajajaran, Prabu Siliwangi) dan adiknya, Nyai Rara Santang, pertama kali mendapat pendidikan agama Islam.
Pada awal abad ke-16, Cirebon masih di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Pangeran Walangsungsang ditempatkan oleh raja Pajajaran sebagai juru labuhan di Cirebon. Ia bergelar Cakrabumi. Setelah cukup kuat, Walangsungsang memproklamasikan kemerdekaan Cirebon dan bergelar Cakrabuana. Ketika pemerintahannya telah kuat, Walangsungsang dan Nyai Rara Santang melaksanakan ibadah haji ke Mekah. Sepulang dari Mekah ia memindahkan pusat kerajaannya ke Lemahwungkuk. Di sanalah kemudian didirikan keraton baru yang dinamakannya Pakungwati.
Sumber-sumber setempat menganggap pendiri Cirebon adalah Walangsungsang, namun orang yang berhasil meningkatkan statusnya menjadi sebuah kesultanan adalah Syarif Hidayatullah yang oleh Babad Cirebon dikatakan identik dengan Sunan Gunung Jati (Wali Songo). Sumber ini juga mengatakan bahwa Sunan Gunung Jati adalah keponakan dan pengganti Pangeran Cakrabuana. Dialah pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten.
Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam, Sunan Gunung Jati berusaha mempengaruhi kerajaan Pajajaran yang belum menganut agama Islam. Ia mengembangkan agama ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.
Setelah Sunan Gunung Jati wafat (menurut Negarakertabhumi dan Purwaka Caruban Nagari tahun 1568), dia digantikan oleh cucunya yang terkenal dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Pada masa pemerintahannya, Cirebon berada di bawah pengaruh Mataram. Kendati demikian, hubungan kedua kesultanan itu selalu berada dalam suasana perdamaian. Kesultanan Cirebon tidak pernah mengadakan perlawanan terhadap Mataram. Pada tahun 1590, raja Mataram, Panembahan Senapati, membantu para pemimpin agama dan raja Cirebon untuk memperkuat tembok yang mengelilingi kota Cirebon. Mataram menganggap raja-raja Cirebon sebagai keturunan orang suci karena Cirebon lebih dahulu menerima Islam. Pada tahun 1636 Panembahan Ratu berkunjung ke Mataram sebagai penghormatan kepada Sultan Agung yang telah menguasai sebagian pulau Jawa.
Panembahan Ratu wafat pada tahun 1650 dan digantikan oleh putranya yang bergelar Panembahan Girilaya. Keutuhan Cirebon sebagai satu kerajaan hanya sampai pada masa Pnembahan Girilaya (1650-1662). Sepeninggalnya, sesuai dengan kehendaknya sendiri, Cirebon diperintah oleh dua putranya, Martawijaya (Panembahan Sepuh) dan Kartawijaya (Panembahan Anom). Panembahan Sepuh memimpin kesultanan Kasepuhan dengan gelar Syamsuddin, sementara Panembahan Anom memimpin Kesultanan Kanoman dengan gelar Badruddin. Saudara mereka, Wangsakerta, mendapat tanah seribu cacah (ukuran tanah sesuai dengan jumlah rumah tangga yang merupakan sumber tenaga).
Perpecahan tersebut menyebabkan kedudukan Kesultanan Cirebon menjadi lemah sehingga pada tahun 1681 kedua kesultanan menjadi proteksi VOC. Bahkan pada waktu Panembahan Sepuh meninggal dunia (1697), terjadi perebutan kekuasaan di antara kedua putranya. Keadaan demikian mengakibatkan kedudukan VOC semakin kokoh. Dalam Perjanjian Kertasura 1705 antara Mataram dan VOC disebutkan bahwa Cirebon berada di bawah pengawasan langsung VOC.
Walaupun demikian kemunduran politik itu ternyata sama sekali tidak mengurangi wibawa Cirebon sebagai pusat keagamaan di Jawa Barat. Peranan historis keagamaan yang dijalankan Sunan Gunung Jati tak pernah hilang dalam kenangan masyarakat. Pendidikan keagamaan di Cirebon terus berkembang. Pada abad ke-17 dan ke-18 di keraton-keraton Cirebon berkembang kegiatan-kegiatan sastra yang sangat memikat perhatian. Hal ini antara lain terbukti dari kegiatan karang-mengarang suluk, nyanyian keagamaan Islam yang bercorak mistik. Di samping itu, pesantren-pesantren yang pada masa awal Islam berkembang di daerah pesisir pulau Jawa hanya bertahan di Cirebon; selebihnya mengalami kemunduran atau pindah ke pedalaman.
Keraton para keturunan Sunan Gunung Jati tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan pengaruh pemerintah Hindia Belanda. Kesultanan itu bahkan masih dipertahankan sampai sekarang. Meskipun tidak memiliki pemerintahan administratif, mereka tetap meneruskan tradisi Kesultanan Cirebon. Misalnya, melaksanakan Panjang Jimat (peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw) dan memelihara makam leluhurnya Sunan Gunung Jati.